Rabu, 19 Mei 2010

Menyikapi Kebaikan dan Keburukan

Kini, kita berlabuh di sebuah zaman yang mengedepankan kecanggihan teknologi sebagai produk pikiran manusia genius. Kapasitas manusia melahirkan teknologi kian terbuka lebar. Karena keunggulan yang dijelmakan teknologi inilah menyebabkan manusia rentan terkena virus “kepongahan,” “kesombongan,” dan “keangkuhan”, seraya menisbatkan seluruh keunggulan dan prestasi sebagai hasil dari kerja keras dan kecerdasannya sendiri.
Namun, aneh sekali, ketika mereka mengalami kegagalan dalam satu hal, dia kerap menisbatkan pada Allah SWT. Singkatnya, situasi baik dia nisbatkan pada dirinya, dan situasi buruk dinisbatkan pada Allah. Ada tim dokter ahli yang sukses melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam. Sebuah prestasi yang mencengangkan, karena sebelumnya belum ada yang sukses melakukan operasi seperti itu. Karena kesuksesan yang diraih, mereka sesumber soal timnya yang berpengalaman, professional, dan cerdas. Namun, beberapa hari setelah operasi ada salah satu bayi itu meninggal, dia menyatakan itu sudah ketentuan dari Allah.


Ketika memeroleh kebaikan (nikmat) dinisbatkan pada kemampuan dirinya, sedangkan keburukan (musibah) dinisbatkan pada Allah. Kenyataan tersebut sebagai fragmen kecil yang mengemuka di horizon kehidupan kita, dan menjadi gambaran tak sedikit orang yang menganggap bahwa prestasinya diraih karena hasil kerja keras dan kemampuannya sendiri.

Bila kita terjebak menisbatkan kebaikan pada diri sendiri, maka kita akan terpuruk dalam jebakan kesombongan. Yang kesombongan sendiri akan membikin manusia berjarak jauh dengan kebahagiaan. Padahal setiap orang pasti tidak mengalami keberhasilan terus-menerus, karena ada saatnya kegagalan akan menjumpainya. Ketika orang sombong dengan keberhasilan yang diraih, maka ketika kegagalan menyapanya, dia menjadi rendah diri, bahkan putus asa.

Kini, bagaimana seharusnya menyikapi kebaikan dan keburukan yang dialami kita? Perlu diketahui, bahwa Allah Sumber Kebaikan Mutlak, dan setiap kebaikan datang dari Allah semata-mata, sementara diri kita hanya saluran untuk memantulkan kebaikan-kebaikan Allah SWT. Andaikan ada keburukan, maka hanya dinisbatkan pada diri dan hawa nafsu semata.


Menyikapi keburukan
Ketika Nabiullah Adam AS menikmati pesona dan keindahan surga bersama istrinya Sayyidah Hawa, didatangi oleh Iblis, seraya membujuk kalau hendak kekal abadi di surga untuk mendekati pohon terlarang. Pada mulanya, Nabi Adam AS tidak menghiraukan apa yang dikatakan Iblis, hanya saja Sayyidah Hawa terpikat dengan bujukan Iblis tersebut, sembari meminta Nabi Adam AS untuk mendekati berikut memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Akhirnya, sepasang suami istri itu menikmati buah yang telah dilarang oleh Allah SWT. Karena melanggar batas-batas yang dilarang Allah, maka mereka berdua dikeluarkan dari surga.

Setelah keluar dari surga, Nabi Adam AS begitu menyesal, sebagai tanda penyesalannya yang mendalam, beliau bertobat disertai dengan munajat yang amat terkenal “Tuhan kami, kami telah berbuat dzalim pada diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, maka sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.” Dari petikan munajat istighfar yang diekspresikan Nabi Adam AS mencerminkan betapa luhurnya budi Nabi Adam AS. Beliau tak menyalahkan Iblis yang telah membujuknya, juga tak menisbatkan kesalahan pada Sayyidah Hawa, apalagi menisbatkan kesalahan pada pohon terlarang. Beliau punya keberanian moral untuk menisbatkan kesalahan pada dirinya sendiri. Beliau tidak menisbatkan kesalahan pada siapapun, apalagi Allah, Tuhan Yang Maha Suci dari kesalahan.

Bandingkan dengan sikap Iblis setelah dikeluarkan dari surga, Iblis berkata “Karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (QS. Al-A’raf [7]:16).

Merunut pada peristiwa dikeluarkannya dua makhluk dari surga yang satu bernama Nabi Adam AS, yang satu adalah Iblis. Keduanya punya sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi keputusan Allah. Nabi Adam AS menyadari bahwa keluarnya dia dari surga bersama Sayyidah Hawa murni kesalahan dirinya. Rasa penyesalannya yang mendalam itu tercermin dari munajat yang kental dengan permohonan tobat, disertai ratapan tangis atas dosa yang telah dilakukan.

Sementara Iblis, alih-alih terbetik penyesalan atas pelanggaran yang diperbuat, malah menaruh dendam terhadap Adam AS berikut keturunannya, dengan pokok pikiran yang mendasari, bahwa yang membuat dia keluar dari surga, rahmat Allah, dan akhirnya divonis sebagai yang tersesat karena Nabi Adam AS, bahkan dia juga menisbatkan kesalahan pada Allah SWT. Memang Iblis sama sekali tidak punya etika dalam menjalani hidup, makanya seluruh hal yang datang dari Iblis adalah kegelapan tanpa cahaya. Bahkan keluarnya dia dari surga dijadikan momen deklarasi untuk menyesatkan seluruh anak Adam AS. Memang seluruh sikap buruk itu terhimpun pada pribadi Iblis, seperti sikap sombong, dengki, bahkan dendam yang terus-menerus tanpa henti.

Menghadapi Kebaikan
Ketika kebaikan diperoleh, sikap awal yang perlu diambil, seperti yang diekspresikan oleh Nabi Sulaiman AS, “Ini adalah karunia dari Tuhan-ku.” Dialah seorang Nabi yang telah dikarunia keutamaan berupa kerajaan yang luas, dengan pemerintahan yang melingkupi manusia, juga binatang, ditambah dengan kekayaan yang melimpah mencitrakan dirinya sebagai sosok yang sempurna. Hanya saja dengan kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang didapatkan tidak pernah membuatnya lalai pada Allah, bahkan dia selalu mengungkapkan rasa syukur secara kontinum pada Allah SWT.

Pundi-pundi kekayaan tidak menstimulus dia berlaku sombong, malah bersikap rendah hati dibaluti rasa syukur. Rasa syukur itulah yang menjadi model indah yang dipatrikan pada Nabi Sulaiman AS. Ada ungkapan beliau AS yang tetap terukir indah dalam al-Qur’an tatkala beliau mendengar seekor semut menyeru semut yang lainnya untuk masuk ke dalam sarang-sarangnya, tatkala tentara beliau AS lewat. Ungkapan beliau yang begitu indah itu diabadikan oleh al-Qur’an, “Ya Tuhan-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmati yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu Bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml [27]:19

Bandingkan dengan sikap yang ditunjukkan Qarun dengan kekayaan yang dihimpun, alih-alih dia bersyukur pada Allah, malah menganggap bahwa kekayaan itu diperoleh karena ilmunya sendiri. Pernyataan ini juga diabadikan al-Qur’an, “Qarun berkata, “sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasas [28]:78).

Kekayaannya telah membuat lalai berikut ingkar akan nikmat yang diberikan Allah, bahkan dia bersikap sombong dengan menisbatkan kemegahan yang didapatkan karena ilmunya sendiri. Karena keingkaran itulah, maka Qarun mendapatkan azab yang pedih dari Allah, dengan dibenamkan dirinya bersama seluruh harta ke dalam tanah.

Dari petikan kisah di atas, semoga bisa memberikan penyadaran pada kita, bahwa orang beriman layaknya menisbatkan kebaikan pada Allah semata, sementara keburukan selalu dinisbatkan pada dirinya. Dan andaikan selama ini, kita lebih sering menisbatkan kebaikan pada diri sendiri, berikut menisbatkan keburukan pada Allah, juga pada orang lain, maka ketahuilah itulah sifat-sifat orang kafir, bahkan dedengkot kafir, yakni Iblis. Kita berharap semoga, selalu terpandu untuk bersyukur pada Allah atas kebaikan yang diperoleh, dan ketika mendapatkan keburukan kita memilih untuk bertobat dan beristighfar sebagai pertanda, mengakui keburukan itu karena diri sendiri.


KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentrankripsi: Khalili Anwar
Pentranskripsi: Khalili Anwar


Ijo's Badge on facebook